REVIEW : CANTIK ITU LUKA , EKA KURNIAWAN

Tuesday, July 12, 2016

Banyak kehidupan yang diceritakan Eka Kurniawan pada novel sepanjang 496 halaman ini. Bermula pada dari Dewi Ayu dan cerita tentang keluarganya, tapi terus terangkai bertahun-tahun kemudian melintas berbagai masa dalam Republik ini, bahkan sejak Republik ini belum benar-benar ada, sejak Belanda dan Jepang masih menguasai semua sumber daya alam dan manusia terutama di pulau Jawa, hingga memasuki masa-masa kemerdekaan Indonesia, dan berlanjut sampai peristiwa yang dikenal dengan nama G30S PKI. Berbeda dengan menonton sinetron dengan beratus ratus episode, membaca novel ini sama sekali tidak membuahkan kantuk. Novel ini bisa dianggap menjadi novel fenomenal, novel dengan gaya klasik, serupa tuturan dari novel era victorian dan cynical seperti karya Gabriel García Márquez pada Love in The Time of Cholera, tempo lambat, hampir tanpa jeda yang membuat pembaca seperti sedang maraton tanpa kesempatan mengambil napas, cara penuturan yang tampak sepadan dengan masa yang diceritakan. Gaya klasik Eka Kurniawan tidak ragu menggambarkan gairah sex laki-laki yang muncul akibat memandang seorang perempuan cantik dengan tubuh molek, ia bahkan menggambarkan sebuah masyarakat yang tampaknya “mesum” dengan gaya  apa adanya.

Eka Kurniawan juga menggarap karakter setiap tokoh dengan cerdik, Dewi Ayu dan ketiga anak pertamanya, Alamanda, Adinda dan Maya Dewi punya karakter yang sangat kuat dengan ciri khas layaknya menyaksikan tokoh-tokoh yang hidup didunia nyata. Si cantik memang tidak mendapat porsi sebanyak kakak-kakaknya, tapi penulis tetap berhasil memperkenalkan perbedaan karakter si Cantik melalui penuturan singkat dan tersirat. Banyak peristiwa-peristiwa sejarah yang disinggung oleh penulis dari sudut pandang masyarakat kecil yang tinggal di desa pinggiran pantai di sepanjang pulau Jawa, yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, dimana preman-preman berkeliaran di terminal, dan prajurit punya markas-markas di tengah kota. Novel ini bukan novel horor, tapi penulis dengan jelas menceritakan tentang hantu-hantu yang berkeliaran di kota, mengganggu penduduk dan membuat beberapa orang hampir gila, hantu-hantu yang hanya akan pergi ketika tuan rumah selesai memberi mereka makan. Tidak hanya kehidupan Dewi Ayu dan tokoh dalam novel ini yang ajaib, tapi novel ini sendiri menurutku ajaib dalam segala hal. Ajaib yang kumaksud adalah adanya kejadian-kejadian aneh seperti bayi yang menghilang dari perut seorang ibu layaknya hembusan angin, hantu-hantu yang berkeliaran di Halimunda yang kubayangkan seperti hantu-hantu yang ada di kastil Hogwartz, babi yang berubah menjadi manusia.

Cantik itu Luka rasanya bukan untuk konsumsi semua usia, tidak disarankan anak dibawah umur, karena imajinasi seksual yang ditampilkan Eka Kurniawan tampak nyata dan mungkin mengganggu bagi mereka yang terbiasa membaca novel klasik yang sangat sopan.

Kedua novel Eka Kurniawan sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan novel mendapat judul “Beauty is a Wound” yang juga pernah dibahas di New York Times. Eka Kurniawan layak disebut sebagai storyteller yang cakap, karena meskipun butuh napas dan waktu yang panjang membaca novel ini, tapi pemilihan kata dan rangkaian kalimat yang digunakan tidak membuatku bosan bahkan sebaliknya tanpa lelah terus membalik halaman hingga lembar terakhir.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Categories

Followers

About Me

My Photo
najih suraya
" do not believe what you see in me "
View my complete profile

Total Pageviews

 

© 2010 eunoia, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV